Kamis, 27 Agustus 2026
Hot

Profil Diding Boneng Meninggal Dunia Usia 76 Tahun

Article ad before first paragraph

Muklis Purwanto Penulis | Ipnu Subroto Editor

ENTERTAINMENT HARIAN EXPRESS, JAKARTA – Diding Boneng wafat. Sang aktor berpulang di Jakarta pada Senin (3/8/2026) dalam usia 76 tahun.

Industri film Indonesia kini berduka. Diding Boneng, lahir pada tanggal 3 Maret 1950, mendiang memulai perjalanannya di dunia teater sejak tahun 1973. Beliau sering memenangkan festival teater remaja dan meraih berbagai penghargaan bergengsi.

Namanya mulai dikenal luas melalui film Tiga Dara Mencari Cinta dan serial TV Rumah Masa Depan. Puncak popularitasnya dicapai saat membintangi deretan film komedi legendaris bersama Warkop DKI sejak era 1980-an hingga 1994.

Article ad in the middle of article

Keterlibatan Diding Boneng dalam film-film Warkop DKI rupanya terjadi tanpa melalui proses audisi. Pihak rumah produksi Soraya Film langsung menghubunginya untuk diajak bergabung bermain peran. Mengenang momen tersebut, almarhum sempat menceritakan proses casting yang tidak biasa ini.

Beliau menceritakan secara langsung, “Saya bukannya sombong ya. Saya kan bilang tadi, saya nggak pernah ikut casting, termasuk sama Warkop. Tiba-tiba PT-nya yang memproduksi Warkop, Soraya waktu itu dia calling saya. Saya disuruh dateng ke kantor Soraya Film. Di sana saya ketemu Warkop. Saya diajak main,”

Meskipun penampilannya di layar lebar mulai berkurang sejak tahun 2000-an, ia tetap membaktikan diri pada seni peran. Boneng aktif mengajar teater secara rutin di Teater Besar Taman Ismail Marzuki.

Di sanalah ia menghabiskan hari-harinya untuk berlatih, berdiskusi, dan membaca buku. Dedikasinya di panggung teater dibuktikan dengan raihan prestasi sebagai sutradara dan aktor terbaik.

profil-diding-boneng-meninggal-dunia-usia-76-tahun

Bagi mendiang, dunia teater memiliki kedalaman karakter yang jauh berbeda dibandingkan dengan industri perfilman komersial.

Almarhum menjelaskan, “Di teater nggak liat cantik, jelek, gagah, lagi populer atau nggak, kan kita nggak lihat itu. Siapa yang mampu memegang peran ini atau bisa membuktikan bahwa mereka siap membawakan peran ini, silakan, siapapun. Di film kan nggak, ada ukuran dagangnya. Makanya sangat beda, beda sekali. Film sama teater yang sama, sama-sama bicara pemeranan. Tapi, kedalaman atau menyusuri pemeran itu secara dalam saya nggak yakin kalau di film,”

Pandangan kritis ini mencerminkan komitmen tulusnya terhadap nilai seni yang sejati hingga akhir hayatnya.

Article ad after last paragraph